Kini, sahabat kami dalam sunyi..
Setelah dalam banyak waktu
ia berhandai tolan dan bersanak saudara
ia adalah kehangatan di setiap
perjumpaan...
Setelah dalam banyak waktu
ia berhandai tolan dan bersanak saudara
ia adalah kehangatan di setiap
perjumpaan...
![]() |
| Sumber Ilustrasi : Pixabay |
Sahabat, kini kau tinggalkan kami
masih dalam keriuhan yang kadang tak kami mengerti
bising suara dan derap kaki berkejaran
memburu segala asa yang penuh jelaga
dan tak pernah usai, tak pernah selesai
masih dalam keriuhan yang kadang tak kami mengerti
bising suara dan derap kaki berkejaran
memburu segala asa yang penuh jelaga
dan tak pernah usai, tak pernah selesai
Kini, ia sunyi dalam denting waktu
menuju perjalanan panjang yang tak terkira
kepada ruang yang Ada dan Abadi
meski kita tak mungkin mengiranya,
menuju perjalanan panjang yang tak terkira
kepada ruang yang Ada dan Abadi
meski kita tak mungkin mengiranya,
sebab, kita dalam ruang yang fana
dan terlalu banyak keriuhan yang
bias makna..
Sahabat itu kini sunyi dan menepi
ia telah menemukan singgasanaNya
dan waktu adalah perjalanan menemui
rindunya pada Illahi
tak ada lagi keriuhan, tak ada lagi suara
sedu sedan menangisi kepergian
Ia telah pergi dan kesunyian adalah
pengharapan yang paripurna
Dalam peluk Illahi dan rengkuh cahaya Surgawi
dan terlalu banyak keriuhan yang
bias makna..
Sahabat itu kini sunyi dan menepi
ia telah menemukan singgasanaNya
dan waktu adalah perjalanan menemui
rindunya pada Illahi
tak ada lagi keriuhan, tak ada lagi suara
sedu sedan menangisi kepergian
Ia telah pergi dan kesunyian adalah
pengharapan yang paripurna
Dalam peluk Illahi dan rengkuh cahaya Surgawi
***
Fiksi Sunyi,
Jakarta 1 Februari 2024
Jakarta 1 Februari 2024

Komentar
Posting Komentar