Puisi : Bersamamu Adalah Kerinduan Yang Tak Pernah Usai

Sumber: lokerseni.web.id

Aku ingin mencintaimu lebih lama lagi
Seperti air telaga di musim semi yang menanti musim hujan.
Aku ingin bersamamu selama mungkin.
Seperti saat bunga pertama kali bersemi,
hingga pucuk-pucuk dahan berguguran
menjelang pergantian musim. 

Bersamamu adalah kerinduan yang tak ada habisnya.
Seperti rindu kunang-kunang di pergantian malam,
dari malam pertama, hingga malam pertama berikutnya dan seterusnya. 

Kunang-kunang yang terbang melewati beranda dan taman,
yang sedari dulu ditumbuhi bunga dan ilalang yang saling menyuburkan. 

Aku menantimu di telaga yang airnya tak pernah berganti warna.
Telaga yang mengajariku bahwa cinta adalah kejernihan
yang tumbuh dari dasar,
pada kedalaman hati yang tak pernah kamu sendiri
mampu melihatnya, juga aku.
Apatah lagi mampu menyelaminya. 

Telaga yang mengajariku
bahwa cinta itu adalah sesuatu yang terus terpendam
di kedalaman hati, yang begitu rupa adanya,
 tanpa kita tahu sedalam apa dan bagaimana pula akhirnya. 

Ya, cinta adalah keikhlasan yang tak perlu kau tahu,
bagaimana sesungguhnya harapan yang ditumbuhkan,
atau penantian yang dipertemukan. 

Aku hanya memahami bahwa bersamamu
adalah kehadiran yang tak perlu terlihat,
seperti hembusan angin yang sangat terasa
pada malam yang menggantung di penghujungnya,
menjelang pergantian menuju pagi. 

Pergantian malam menuju pagi,
dimana butiran embun perlahan jatuh di atas rumput
dan kejernihannya menyegarkan mimpi kita semalam.
Mimpi yang aku tahu, seperti malam-malam
yang berlalu namun tak pernah pergi. 

Malam yang terus beranjak dan tak pernah pergi.
Bersamamu adalah kerinduan yang tak pernah usai.
Menantimu adalah harapan yang terus tumbuh. 

Aku memahaminya, seperti saat aku menanam sepucuk bunga,
yang kutahu kumulai semuanya dengan menanam akar,
lalu tumbuh batang dan dahan
dan lalu bersemi putik dan kelopak bunga. 

Bersamamu, aku paham
aku sedang menanam bunga,
bukan merangkai bunga yang suatu saat jatuh layu. 

Bukan, aku menanamnya dari ketiadaan
menjadi keabadian...

***

Fiksi Sunyi,  Manado, 15/02/2021


Komentar